Analisis Kerapatan dan Penutupan Ekosistem Lamun di Pulau Miang Besar dan Kecil Kabupaten Kutai Timur
Abstract
Lamun atau yang dikenal sebagai seagrass dalam istilah internasional, merupakan tumbuhan air berbunga (Anthophyta) yang sepenuhnya hidup dan tumbuh dalam kolom perairan laut dangkal dan estuary. Padang lamun sering dijumpai di daerah pasang surut bawah (inner intertidal) dan subtidal atas (upper subtidal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerapan dan penutupan lamun di kawasan Pulau Miang Besar dan Kecil. Penelitian ini menggunakan metode transek garis (Line Transect) dan dilakukan pada September 2024. Penentuan titik transek pengamatan menggunakan metode Purposive sampling berdasarkan area pengamatan. Data analisis yang digunakan meliputi kerapatan, penutupan serta kecepatan arus. Selanjutnya data dianalisis menggunakan Microsoft Excel 2019. Hasil penelitian menunjukkan pada kawasan Pulau Miang Besar di temukan 4 jenis lamun yaitu Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halodule uninervis, dan Syringodium isoetifolium, dengan nilai kerapatan tertinggi ada pada transek 2 1096 ind/m2. Pada kawasan Pulau Miang Kecil ditemukan 5 jenis yaitu Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea serulatta, Enhalus acoroides, dengan nilai kerapatan tertinngi ada pada transek 2 971 ind/m2. Dengan nilai penutupan tertinngi ada pada transek 1 Pualu Miang Besar dengan nilai 55,21%, sedangkan yang terendah berada pada transek 3 Pulau Miang Kecil dengan nilai 26.04%. Hasil penelitian ini memberikan gambaran dasar kondisi ekologis padang lamun sebagai indikator kesehatan ekosistem pesisir di Kabupaten Kutai Timur.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Arkham, Nur, M., Adrianto, L., & Wardiatno, Y. 2015. Studi Keterkaitan Ekosistem Lamun Dan Perikanan Skala Kecil (Studi Kasus: Desa Malang Rapat Dan Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau). Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. 10(2): 137-148.
Azkab, M. H. (1999). Pedoman Inventarisasi Lamun. Balai Penelitian Biologi Laut, Puslitbang Oseanologi LIPI. Jakarta
Azkab, M.H., 2006. Ada Apa Dengan Lamun. LIPI 31,11.
Brower J E, H Z Jerrold, CN Von Ende. 1990. Field and Laboratory Methods for General Ecology.
Thrid Edition. USA Wm. C. Brown Publisher. New York.
Bortone, S. A. (2000). Seagrasses: monitoring, ecology, physiology and management. CRC Press.
Boca Raton, Florida. 318p.
Den Hartog, C. (1967). The Structural Aspect in the Ecology of Seagrass Communities. Helgoland
Marine Research.
Duarte, C.M. (2002). The future of seagrass meadows. Environ. Conserv., 29:192-206.
Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perairan.
Cetakan kelima. Yogjakarta: Kanisius.
Engeman, R.M., Dugnesnel, J.A., Cowan, E.M., Smith, H.T., Shwiff, S.A. & Karlin, M. (2008).
Assessing Boat damage to Seagrass Bed habitat in a Florida Park Fram a Bioeconomic
prospective. Jurnal of Coastal Rsearch, 24(2): 527-532.
Faizal, B. D., Irawan, A., & Sari, L. I. (2022). Hubungan Kerapatan Lamun Dengan Kelimpahan Megagastropoda di Perairan Pulau Miang Besar Kutai Timur. Tropical Aquatic Sciences, 1(1), 17-23.
Hackney, J. W., & Durako, M. J. (2003). Size frequency Patterns in Morphometric Characteristics of the Seagrass Thalassia testudinum Reflect Environmental Variability. Ecological Indicators.
Harpiansyah, A. P., & Yandri, F. (2014). Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Desa Pengudang Kabupaten Bintan. Universitas Maritim Raja Ali Haji Press. Tanjung Pinang.
Haviarini, C.P, Azzahra, F.A, B, Refaldi , Sofyan, O.H. Konservasi Jenis Lamun Di Kawasan Perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Jurnal Geografi Gea, Volume 19, No.1, April 2019
Hemminga, M.A. & Duarte, C.M. 2000. Seagrass Ecology. Published by The Press Syndicate of the University of Cambridge, United Kingdom
Hermawan, U.E., Sjafrie, N.D.M., Supriyadi, I.H., Suyarso, Iswari, M.Y., Anggraini, K., & Rahmat, 2017. Status padang lamun Indonesia 2017. Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta. Hutomo, M., 1985. Telaah Ekologik Komunitas Ikan pada Padang Lamun (Seagrass, Anthophyta) di Perairan Teluk Banten. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Indriani, 2017. Cadangan Karbon di Area Padang Lamun Pesisir Pulau Bintan, Kepulauan Riau. LIPI 2 (3) Hal 1-11. Jakarta Online: ISSN:2477-328X.
Isnaini & Aryawati, R., 2023. Kerapatan Lamun dan Hubungan dengan Parameter Lingkungan di Perairan Pesisir Teluk Lampung. Buletin Oseanografi Marina. 12 (3).
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (KEPMEN-LH)) Nomor 200 Tahun 2004. Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun.
Kiswara, W. dan Malikusworo H. 1985. Habitat dan Sebaran Geografik Lamun. Oseana. 10(1): 21- 30
RegionA.W.D. Larkum; A.J. Mc. Comb & S.A.Sheperd (1989). Biology of seagrasses: Atreatise on the biology of seagrasses with special reference to Australian. Amsterdam, The Netherlands: Elsevier Science Pub.
Lanyon, J. (1986). Seagrass of the Great Barrier Reef. Queensland: Nadicprint Services Pty. Ltd McKenzie, L., 2008. Seagrasss Educators Handbook. Seagrass-Watch.
McKenna, S. A. (2010). Port of Karumba Long-Term Seagrass Monitoring. EcoPortsonograph. Patty, S. I. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut di Perairan Kema, Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 1(3).
Sarinawati, F. Idris, F. Nugraha, A.H. 2020. Karakteristik Morfometrik Lamun Enhalus acoroides
dan Thalassia hemprichii di Pesisir Pulau Bintan. Journal of Marine Research 9(4): 474-484.
Sjafrie, N. D., Hernawan, U. E., Prayudha, B., Supriyadi, I. H., Iswari, M. Y., Rahmat, K. A., & Suyarso, S. R. (2018). Status Padang Lamun Indonesia 2018 Ver. 02. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Puslit Oseanografi LIPI. Jakarta.
Short, F.T. & Wyllie-Echeverria, S. (1996). Natural and human-induced distribution of segrass,
Environ Conrsev, 23:17-27.
Stevani Rawung, Ferdinand F. Tilaar, Ari B. Rondonuwu. (2018). Inventarisasi Lamun Di Perairan
Marine Field Station Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Unsrat Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 6:(2).
Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian International. Surabaya. 412 hal. Wagey, B. T. (2013). Hilamun. Manado: Unsrat Press.
Warastri. (2009). Penggunaan Data Citra Pengindreaan Jarak Jauh untuk Mengetahui Sebaran Biomassa Lamun di Gugus Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Jakarta. Intitut Pertanian Bogor Press. Bogor.
Waycott, M., Mahon, K. M., Mellors, J., Calladine, A., & Kleine, D. (2004). A Guide to Tropical
Seagrass of The Indo-West Pacific. Townsville-Queensland Australia: James Cook University.
Waycott, M., K. McMahon, J. Mellors, A. Calladine, and D. Kleine, 2004. A Guide to Tropical Seagrasses of the Indo-West Pacific. James Cook University, Townsville Queensland Australia.
Waycott M, Duarte CM, Carruthers TJB, Orth RJ, Dennison WC, Olyarnik S, Calladine A, Fourqurean JW, Heck KL, Hughes AR, Kendrick GA, Kenworthy WJ, Short FT, Williams SL, dan Paine RT. 2009. Accelerating loss of seagrasses across the globe threatens coastal ecosystems. Proc Natl Acad Sci USA 106 (30): 12377-12381.
Yasser, M. (2022). Gambaran sebaran kondisi terumbu karang di perairan Kecamatan Sangkulirang dan Sandaran Kabupaten Kutai Timur (Coral reef distribution of Sangkulirang dan Sandaran Waters). Jurnal Ilmu Perikanan Tropis Nusantara. 1, (1).
Zurba, N. (2018). Pengenalan Padang Lamun: Suatu Ekosistem yang Terlupakan. Unimal Press. Lhokseumawe.
DOI: https://doi.org/10.35308/jlik.v8i1.13901
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 Rezky Ananda, Nurfadilah Nurfadilah, Irma Suryana













